Thursday, February 02, 2006

Banjir Mulai Surut, Jalur Pantura Dibuka Lagi,

INDRAMAYU,
Banjir yang melanda Indramayu, Rabu siang (1/2), sudah mulai surut. Jalan-jalan yang terendam air kembali bisa digunakan, termasuk jalur utama pantura yang selama tiga hari tertutup arus lalu lintas akibat tergenang banjir sampai di atas 1,5 meter.
Jalur utama yang paling strategis di pantura itu sejak Rabu malam sudah mulai dibuka.

PARA pengungsi korban banjir di Kec. Losarang Kab. Indramayu berebut makan siang di salah satu tenda darurat, Rabu (1/2). Ratusan pengungsi di Kec. Losarang Kab. Indramayu masih tinggal di sepanjang jalur pantura dan membangun sejumlah tenda darurat sebagai tempat tinggal sementara.

Dari pantauan kemarin, genangan air yang di permukiman penduduk telah surut dan mulai mengering. Kalaupun masih ada genangan, hanya sebatas di Desa Jumbleng, Kec. Losarang dan sejumlah desa di Kandanghaur. Genangan air memang masih terlihat di areal persawahan dan tambak.

Warga masih khawatir hujan akan masih tetap turun dan banjir bakal datang lagi. Itu sebabnya, warga hanya bersih-bersih alakadarnya hanya untuk keperluan sementara. Perabot rumah tangga, terutama peralatan elektronik, masih tetap disimpan di tempat yang lebih tinggi agar tidak tergenang banjir.

Sampai Rabu petang, masyarakat yang selama empat hari ini mengungsi, kebanyakan telah kembali ke rumah masing-masing untuk berbenah. Namun, sebagian masih tetap tidur ditenda dan mengunci pintu rumahnya. "Malam, kami ronda dan mengontrol rumah, supaya tidak ada pencuri masuk," tutur Tarkidi (36).

Meski telah surut, aktivitas masyarakat tampaknya belum pulih normal. Sekolah-sekolah masih meliburkan siswanya, seperti di SDN Nagrak I Kandanghaur. "Anak-anak belum sekolah karena kelasnya masih terendam. Lagi pula, kebanyakan anak-anak sedang membantu orang tuanya membersihkan rumah masing-masing," tutur H. Warlim (35), salah seorang orang tua siswa.

Hal menyedihkan masih dialami warga desa yang masih tergenang seperti warga Jumbleng. Sebagian besar rumah di desa itu masih tergenang banjir setinggi 10 sampai 15 cm. Kebanyakan warga belum dapat kembali ke rumah dan memilih tinggal di pengungsian pinggir jalan utama pantura.

Wastiri (40), warga Losarang, mengatakan, banjir kali ini merupakan yang paling besar. Ia berharap, penanganan banjir di sekitar Indramayu, khususnya Losarang, dapat ditangani secara cepat dan tak berlarut-larut.

Bantuan makanan

Menyusul surutnya banjir, jalur utama pantura juga sudah mulai dibuka. Namun, di sejumlah tempat seperti di Losarang-Kandanghaur, jalan yang digunakan hanya satu jalur yang ke arah timur. Laju kendaraan di sekitar Losarang agak terhambat. Terjadi antrean panjang kendaraan, namun tidak menimbulkan kemacetan total.

Para pengungsi memanfaatkan antrean kendaraan untuk mencari sumbangan. Di sejumlah titik, terutama di sepanjang 10 km antara Losarang-Kandanghaur, terlihat median jalan yang rusak. Warga sengaja membobol median ketika banjir mencapai puncak, untuk mengalirkan air yang tertahan median setinggi 20 cm itu.

Sejumlah organisasi masyarakat, parpol dan pemerintah daerah terlihat membuka posko bantuan dan siaga di tempat pengungsian. Mereka mengumpulkan sumbangan berupa dana maupun beras, mi instan dan baju untuk pengungsi.

Puso 22.000 ha

Genangan air masih tetap terlihat di areal persawahan dan pertambakan. Walau sudah menyusut, air masih menutupi tanaman padi yang rata-rata usianya di bawah 1 bulan itu setinggi 25 cm. Padahal, sehari sebelumnya, banjir masih menggenang di 28 kecamatan.

Di Kandanghaur, ribuan hektare sawah masih tergenang banjir meski tak sedalam beberapa hari sebelumnya. Begitu pula di Lelea, Terisi, Cikedung, Bongas, Gabuswetan, Kroya, Lohbener, Juntinyuat, Krangkeng, Widasari, dan lain-lain.

"Butuh 2 atau 3 hari lagi untuk menunggu air benar-benar surut. Itu pun jika hujan tidak turun lagi," tutur staf di Badan Ketahanan Pangan setempat, Ahmad Busro.

Hasil inventarisasi sementara, dari 39.000 ha sawah yang terendam, yang kemungkinan mengalami puso diperkirakan 22.871 ha. Perkiraan itu didasarkan pada usia genangan yang sudah lebih dari 7 hari.